Wednesday, 18 December 2019

20:11


A.    Pentingnya Bahasa Indonesia

Bahasa adalah ujaran kata, simbol, lambang dan isyarat, yang digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antar satu sama lain, Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan manusia dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Setiap aktifitas kehidupan manusia, tidak lepas dari komunikasi. Menurut Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A. dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi Bisnis Silang Budaya”, halaman 1, tujuan komunikasi adalah bagaimana memengaruhi orang atau pihak lain. Ini bukan satu-satunya masalah yang perlu dijawab.
Menurut Berlo (1960) ada dua hal yang perlu dijawab, yaitu: memengaruhi siapa dan bagaimana. Jadi, menurutnya ada dua dimensi mengenai tujuan yaitu, siapa yang dipengaruhi dan bagaimana mempengaruhinya. Tentu dalam hal ini, bahasa merupakan aspek penting dalam berkomunikasi. Bahasa yang dapat dimengerti oleh penerima maupun pemberi informasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sementara dalam kamus Oxford (2000:752), bahasa diartikan sebagai “the system of communication in speech and writing that is used by people of a particular country”. Artinya bahasa merupakan sebuah sistem komunikasi lisan dan tulisan yang digunakan manusia pada masing-masing negara.
 Indonesia merupakan suatu bangsa yang memiliki keberagaman. Dari setiap daerah yang ada di Indonesia, memiliki bahasanya masing-masing yang tentunya berbeda-beda, dari berbagai macam suku seperti, Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Asmat, Dani, dan suku lain yang ada di Indonesia, memiliki bahasa khasnya tersendiri. Keberagaman itu bisa disatukan dengan menjalin interaksi menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dimana bahasa Indonesia lah yang menjadi bahasa pemersatu bangsa yang berbeda-beda itu. Bahasa Indonesia lah yang menjadi bahasa resmi bangsa Indonesia, yang pada awalnya bahasa Indonesia, berawal dari bahasa melayu, kemudian seiring berjalannya waktu dan mengikuti pola penjajahan negara-negara asing, bahasa melayu mengikuti perubahan yang ada sehingga bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa pemersatu bangsa.
Beberapa pengertian bahasa menurut para ahli, salah satunya yang dinyatakan oleh Bloomfield (1976), bahasa adalah sistem arbitrari dari lambang bunyi yang memungkinkan semua manusia membangun budaya atau mempelajari sistem dari budaya untuk berkomunikasi atau berinteraksi. Mengingat dari setiap daerah memiliki bahasanya masing-masing, perlu adanya literasi menggunakan bahasa Indonesia sejak dini, agar pada saat masing-masing daerah bersatu dalam sebuah forum atau lembaga, bisa melakukan komunikasi dengan baik menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa daerahnya. Bahasa Indonesia sangat penting pada suatu forum atau lembaga, tidak hanya itu, kita bisa bebas berkomunikasi dengan siapa saja menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Ditinjau dari pengamatan anak SD, SMP, SMA, bahkan masyarakat, masih banyak yang tidak mengetahui tentang bahasa Indonesia. Mereka menganggap bahasa Indonesia hanya untuk orang-orang kota, bahkan orang-orang kota pun masih ada yang tidak lancar, pelafalan kata-katanya masih banyak yang salah dan ada yang sampai tidak tahu sama sekali berbicara bahasa Indonesia. Boleh saja menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, asal yang diajak bicara mengerti bahasa yang digunakan.
Indonesia adalah bangsa yang hidup dengan kebhinekaan, dalam arti Indonesia hidup dengan perbedaan. Perbedaan itulah yang membuat Indonesia menjadi bangsa yang unik dari bangsa lain. Maka dari itu, penting bagi setiap warganya menguasai paling tidak bahasa resmi bahasa Indonesia sejak dini, agar kelak menjadi terbiasa dan paham akan pelafalan bahasa Indonesia. Para pendidik dalam mengajar di kelas, sangat diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia, dimulai dari kalimat yang sederhana dan mudah dipahami sampai kalimat abstrak. Kembali pada sebuah pengamatan yang saya lakukan, banyak guru yang ketika mengajar di kelas, tidak menggunakan bahasa Indonesia, hal inilah yang menjadi salah satu faktor seseorang tidak pandai dalam berbahasa Indonesia.

B.     Bahasa Indonesia Sebagai Identitas Bangsa

Berdasarkan sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Kuno, dan bahasa Melayu Klasik. Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak  yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.
          Kaitannya dengan fakta di atas, menurut Holmes (2013:106), beberapa negara menganggap bahwa terbentuknya suatu bahasa nasional merupakan simbol bersatunya sebuah bangsa. Slogan “satu bangsa, satu bahasa” merupakan slogan yang cukup populer dan efektif. Pada awal abad sebelum tahun 1500-an, bahasa nasional merupakan entitas politik suatu negara, misalnya bahasa Inggris di negara Inggris, bahasa Perancis di negara Perancis, bahasa Jepang di negara Jepang, dan bahasa Spanyol di negara Spanyol. Pada abad ke-19, jumlah bahasa nasional pun semakin bertambah seiring meningkatnya nasionalisme kebahasaan di wilayah Eropa.
          Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, hanya sebgaian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia.
          Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi paling penting untuk mempersatukan seluruh bangsa. Oleh sebab itu, merupakan alat mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tulisan, dari segi rasa harsa dan cipta serta pikir baik secara efektif dan logis. Semua warga negara Indonesia harus mahir dalam menggunakan Bahasa Indonesia karena itu merupakan kewajiban bergaul di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu kita harus memajukan kepribadian Indonesia di dalam maupun di luar negeri. Bahasa Indonesia tentu saja memiliki karakter khusus karena dia berakar dari tradisi etnik lokal yang kemudian dimodifikasi dan diadopsi menjadi bahasa persatuan yang berfungsi sebagai alat perekat keberagaman etnik.
          Setyawan Pujiono (2012) Berpikir Kritis Dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa, Pembelajaran bahasa memainkan peran penting dalam memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk kemampuan komunikasi siswa. Melaui kegiatan bahasa, para siswa diajarkan untuk belajar bentuk atau aturan bahasa, interaksi bahasa dan keterampilan bahasa. Berdasarkan pengamatan di sekolah, masalah dalam keterampilan berbahasa berakar pada kemampuan membaca dan menulis yang rendah. Akibatnya, siswa pada umumnya tidak dapat melakukan banyak perspektif, pemikiran yang berbeda, dan berpikir positif untuk memecahkan masalah yang mereka temukan di era teknologi saat ini, mereka cenderung berpikir seketika dan praktis dalam mengambil tindakan.

C.    Menanamkan Budaya Literasi Kepada Siswa

Guru sebagai tenaga pendidik sekaligus orangtua kedua bagi siswa, harus dapat melakukan hal-hal yang bermakna bagi siswa. Tidak terkecuali menanamkan nilai-nilai budaya pada siswa. Salah satunya budaya literasi sejak dini. Anak sekolah dasar merupakan usia yang paling efektif untuk menerima nilai-nilai budaya. Segala sesuatu yang sudah dibiasakan sejak dini, akan selalu dibawa mereka hingga tua, karena pendidikan yang paling lama mereka tempuh adalah di sekolah dasar. Untuk itu penting bagi para pendidik menanamkan budaya literasi kepada anak dengan melakukan pembiasaan bercerita, membaca, mengamati, menulis, menyimak, dan berbicara. Hal itu bisa dilakukan dengan penyediaan bahan yang bersifat kontekstual, yang mengacu pada kehidupan sehari-hari, agar anak tidak cenderung bosan.
Mengingat kita hidup berada pada generasi milenial, dimana suatu informasi bisa didapatkan dari mana saja, baik dari mulut ke mulu, maupun teknologi canggih, penting bagi kita untuk bisa menelaah mana informasi yang benar-benar fakta dan mana informasi yang tidak benar. hal itu bisa dilakukan dengan banyak-banyak membaca buku. Untuk para pendidik mungkin bisa menyediakan pojok baca di setiap sudut kelasnya, menyediakan seluruh jenis buku yang dapat dibaca siswa, bisa di lakukan sebagai upaya tindak lanjut siswa setelah melakukan pembelajaran.
Pembelajaran bahasa Indonesia tidak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Aktivitas menyimak dan membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa. Dengan menyimak dan membaca, dapat menguatkan kemampuan siswa untuk memahami setiap maksud yang disampaikan oleh menutur baik dalam bentuk lisan dan/atau tulisan. Siswa dilatih mengingat, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya. Selain itu juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya.
Dengan menulis dan berbicara, siswa dapat merefleksikan hasil bacaan dan pengamatannya. Kemampuan berbahasa ekspresif yang secara produktif dapat menghasilkan tuturan bermakna dalam bentuk lisan dan tulisan sehingga difahami. Siswa dapat mengaktualisasikan setiap realitas yang terlihat dalam bentuk komunikasi dengan orang lain.
Untuk menopang semua itu, guru bahasa Indonesia seyogyanya memotivasi siswa agar rajin membaca, salah satunya membaca surat kabar. Dengan membaca surat kabar setiap hari, ilmu pengetahuan siswa akan bertambah. Tanpa disadari sebenarnya mereka juga sedang belajar bahasa Indonesia. Dengan bekal ilmu tersebut, siswa berhasrat menyampaikan pendapatnya (mampu beropini) baik lisan atau tulisan. Selanjutnya, siswa pun mampu beropini melalui surat kabar berani mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang logis dan santun.



0 komentar:

Post a Comment