A.
Pentingnya
Bahasa Indonesia
Bahasa
adalah ujaran kata, simbol, lambang dan isyarat, yang digunakan sebagai alat
untuk berkomunikasi antar satu sama lain, Bahasa adalah alat komunikasi yang
digunakan manusia dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Setiap aktifitas
kehidupan manusia, tidak lepas dari komunikasi. Menurut Prof. Dr. Muhammad
Budyatna, M.A. dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi Bisnis Silang Budaya”,
halaman 1, tujuan komunikasi adalah bagaimana memengaruhi orang atau pihak
lain. Ini bukan satu-satunya masalah yang perlu dijawab.
Menurut
Berlo (1960) ada dua hal yang perlu dijawab, yaitu: memengaruhi siapa dan
bagaimana. Jadi, menurutnya ada dua dimensi mengenai tujuan yaitu, siapa yang
dipengaruhi dan bagaimana mempengaruhinya. Tentu dalam hal ini, bahasa
merupakan aspek penting dalam berkomunikasi. Bahasa yang dapat dimengerti oleh
penerima maupun pemberi informasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh
anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi
diri. Sementara dalam kamus Oxford (2000:752), bahasa diartikan sebagai “the system of communication in speech and
writing that is used by people of a particular country”. Artinya bahasa
merupakan sebuah sistem komunikasi lisan dan tulisan yang digunakan manusia
pada masing-masing negara.
Indonesia merupakan suatu bangsa yang memiliki
keberagaman. Dari setiap daerah yang ada di Indonesia, memiliki bahasanya
masing-masing yang tentunya berbeda-beda, dari berbagai macam suku seperti,
Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Asmat, Dani, dan suku lain yang ada di Indonesia,
memiliki bahasa khasnya tersendiri. Keberagaman itu bisa disatukan dengan
menjalin interaksi menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan dimana bahasa Indonesia lah yang menjadi bahasa pemersatu
bangsa yang berbeda-beda itu. Bahasa Indonesia lah yang menjadi bahasa resmi
bangsa Indonesia, yang pada awalnya bahasa Indonesia, berawal dari bahasa melayu,
kemudian seiring berjalannya waktu dan mengikuti pola penjajahan negara-negara
asing, bahasa melayu mengikuti perubahan yang ada sehingga bahasa Indonesia
resmi menjadi bahasa pemersatu bangsa.
Beberapa
pengertian bahasa menurut para ahli, salah satunya yang dinyatakan oleh
Bloomfield (1976), bahasa adalah sistem arbitrari dari lambang bunyi yang
memungkinkan semua manusia membangun budaya atau mempelajari sistem dari budaya
untuk berkomunikasi atau berinteraksi. Mengingat dari setiap daerah memiliki
bahasanya masing-masing, perlu adanya literasi menggunakan bahasa Indonesia
sejak dini, agar pada saat masing-masing daerah bersatu dalam sebuah forum atau
lembaga, bisa melakukan komunikasi dengan baik menggunakan bahasa Indonesia,
bukan bahasa daerahnya. Bahasa Indonesia sangat penting pada suatu forum atau
lembaga, tidak hanya itu, kita bisa bebas berkomunikasi dengan siapa saja
menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Ditinjau dari pengamatan
anak SD, SMP, SMA, bahkan masyarakat, masih banyak yang tidak mengetahui
tentang bahasa Indonesia. Mereka menganggap bahasa Indonesia hanya untuk
orang-orang kota, bahkan orang-orang kota pun masih ada yang tidak lancar,
pelafalan kata-katanya masih banyak yang salah dan ada yang sampai tidak tahu
sama sekali berbicara bahasa Indonesia. Boleh saja menggunakan bahasa daerahnya
masing-masing, asal yang diajak bicara mengerti bahasa yang digunakan.
Indonesia
adalah bangsa yang hidup dengan kebhinekaan, dalam arti Indonesia hidup dengan
perbedaan. Perbedaan itulah yang membuat Indonesia menjadi bangsa yang unik
dari bangsa lain. Maka dari itu, penting bagi setiap warganya menguasai paling
tidak bahasa resmi bahasa Indonesia sejak dini, agar kelak menjadi terbiasa dan
paham akan pelafalan bahasa Indonesia. Para pendidik dalam mengajar di kelas,
sangat diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia, dimulai dari kalimat yang
sederhana dan mudah dipahami sampai kalimat abstrak. Kembali pada sebuah
pengamatan yang saya lakukan, banyak guru yang ketika mengajar di kelas, tidak
menggunakan bahasa Indonesia, hal inilah yang menjadi salah satu faktor
seseorang tidak pandai dalam berbahasa Indonesia.
B.
Bahasa
Indonesia Sebagai Identitas Bangsa
Berdasarkan sejarah,
bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang
struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan
dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Kuno, dan bahasa Melayu
Klasik. Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun
pada waktu itu belum banyak yang
menggunakannya sebagai bahasa ibu. Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah
yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.
Kaitannya
dengan fakta di atas, menurut Holmes (2013:106), beberapa negara menganggap
bahwa terbentuknya suatu bahasa nasional merupakan simbol bersatunya sebuah
bangsa. Slogan “satu bangsa, satu bahasa” merupakan slogan yang cukup populer
dan efektif. Pada awal abad sebelum tahun 1500-an, bahasa nasional merupakan
entitas politik suatu negara, misalnya bahasa Inggris di negara Inggris, bahasa
Perancis di negara Perancis, bahasa Jepang di negara Jepang, dan bahasa Spanyol
di negara Spanyol. Pada abad ke-19, jumlah bahasa nasional pun semakin
bertambah seiring meningkatnya nasionalisme kebahasaan di wilayah Eropa.
Bahasa
Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam
Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan
bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Meski demikian, hanya sebgaian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar
menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang
tidak resmi masyarakat Indonesia.
Bahasa
Indonesia merupakan alat komunikasi paling penting untuk mempersatukan seluruh
bangsa. Oleh sebab itu, merupakan alat mengungkapkan diri baik secara lisan
maupun tulisan, dari segi rasa harsa dan cipta serta pikir baik secara efektif
dan logis. Semua warga negara Indonesia harus mahir dalam menggunakan Bahasa
Indonesia karena itu merupakan kewajiban bergaul di Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Selain itu kita harus memajukan kepribadian Indonesia di dalam
maupun di luar negeri. Bahasa Indonesia tentu saja memiliki karakter khusus
karena dia berakar dari tradisi etnik lokal yang kemudian dimodifikasi dan
diadopsi menjadi bahasa persatuan yang berfungsi sebagai alat perekat
keberagaman etnik.
Setyawan
Pujiono (2012) Berpikir Kritis Dalam Literasi Membaca dan Menulis Untuk
Memperkuat Jati Diri Bangsa, Pembelajaran bahasa memainkan peran penting dalam
memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk kemampuan komunikasi siswa.
Melaui kegiatan bahasa, para siswa diajarkan untuk belajar bentuk atau aturan
bahasa, interaksi bahasa dan keterampilan bahasa. Berdasarkan pengamatan di
sekolah, masalah dalam keterampilan berbahasa berakar pada kemampuan membaca
dan menulis yang rendah. Akibatnya, siswa pada umumnya tidak dapat melakukan
banyak perspektif, pemikiran yang berbeda, dan berpikir positif untuk
memecahkan masalah yang mereka temukan di era teknologi saat ini, mereka
cenderung berpikir seketika dan praktis dalam mengambil tindakan.
C.
Menanamkan
Budaya Literasi Kepada Siswa
Guru
sebagai tenaga pendidik sekaligus orangtua kedua bagi siswa, harus dapat
melakukan hal-hal yang bermakna bagi siswa. Tidak terkecuali menanamkan
nilai-nilai budaya pada siswa. Salah satunya budaya literasi sejak dini. Anak
sekolah dasar merupakan usia yang paling efektif untuk menerima nilai-nilai
budaya. Segala sesuatu yang sudah dibiasakan sejak dini, akan selalu dibawa
mereka hingga tua, karena pendidikan yang paling lama mereka tempuh adalah di
sekolah dasar. Untuk itu penting bagi para pendidik menanamkan budaya literasi
kepada anak dengan melakukan pembiasaan bercerita, membaca, mengamati, menulis,
menyimak, dan berbicara. Hal itu bisa dilakukan dengan penyediaan bahan yang
bersifat kontekstual, yang mengacu pada kehidupan sehari-hari, agar anak tidak
cenderung bosan.
Mengingat
kita hidup berada pada generasi milenial, dimana suatu informasi bisa
didapatkan dari mana saja, baik dari mulut ke mulu, maupun teknologi canggih,
penting bagi kita untuk bisa menelaah mana informasi yang benar-benar fakta dan
mana informasi yang tidak benar. hal itu bisa dilakukan dengan banyak-banyak
membaca buku. Untuk para pendidik mungkin bisa menyediakan pojok baca di setiap
sudut kelasnya, menyediakan seluruh jenis buku yang dapat dibaca siswa, bisa di
lakukan sebagai upaya tindak lanjut siswa setelah melakukan pembelajaran.
Pembelajaran
bahasa Indonesia tidak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.
Aktivitas menyimak dan membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa.
Dengan menyimak dan membaca, dapat menguatkan kemampuan siswa untuk memahami
setiap maksud yang disampaikan oleh menutur baik dalam bentuk lisan dan/atau
tulisan. Siswa dilatih mengingat, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya.
Selain itu juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya.
Dengan
menulis dan berbicara, siswa dapat merefleksikan hasil bacaan dan
pengamatannya. Kemampuan berbahasa ekspresif yang secara produktif dapat
menghasilkan tuturan bermakna dalam bentuk lisan dan tulisan sehingga difahami.
Siswa dapat mengaktualisasikan setiap realitas yang terlihat dalam bentuk
komunikasi dengan orang lain.
Untuk
menopang semua itu, guru bahasa Indonesia seyogyanya memotivasi siswa agar
rajin membaca, salah satunya membaca surat kabar. Dengan membaca surat kabar
setiap hari, ilmu pengetahuan siswa akan bertambah. Tanpa disadari sebenarnya
mereka juga sedang belajar bahasa Indonesia. Dengan bekal ilmu tersebut, siswa
berhasrat menyampaikan pendapatnya (mampu beropini) baik lisan atau tulisan.
Selanjutnya, siswa pun mampu beropini melalui surat kabar berani mengungkapkan
pendapat dengan bahasa yang logis dan santun.

0 komentar:
Post a Comment