Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang menyebabkan
tanah di Indonesia subur dan mudah ditanami tanaman pangan. Tidak mengherankan,
sebagian besar penduduk Indonesia memanfaatkan kesuburan tanah untuk bertani.
Para petani biasa mengelola alam dan memanfaatkan setiap musimnya untuk menanam
dan memelihara tanaman. Pengertian mereka tentang masa tanam dan panen
dipengaruhi oleh pemahaman mereka tentang perubahan musim hujan dan kemarau.
Pada musim hujan, air melimpah, sedangkan pada musim kemarau, air sangat
sedikit dan harus dibagi rata untuk semua petani. Oleh karenanya, para petani
membuat sistem pengairan secara mandiri seperti yang telah lama dilakukan oleh
masyarakat petani di Bali. Sistem pengaturan air di Bali disebut subak. Ingin
tahu lebih banyak tentang subak? Bacalah dengan saksama artikel berikut ini.
Sistem Irigasi Subak
Subak merupakan sekumpulan petani di Bali yang mengelola sistem
irigasi yang ada di sebuah kawasan persawahan. Kawasan persawahan itu biasanya dibatasi
oleh kenampakan alam seperti sungai, jurang, atau kenampakan lain yang jelas
terlihat. Satu kelompok subak biasanya memiliki satu sumber air yang mengalir
ke sebuah sungai yang melewati atau berada dekat dengan persawahannya. Para
anggota kelompok subak menggunakan sistem gotong royong dan saling bantu dengan
cara “meminjam air”, bukan utang piutang. Dengan demikian, setiap anggota harus
bertanggung jawab terhadap penggunaan air juga terhadap petani lain sesama
anggota Subak.
Sistem irigasi subak dipimpin oleh seorang pengatur yang diebut
pekasehatau kleansubak. Para pekaseh bekerja sama dengan para kepala desa dan perangkat
desa dalam menjalankan tugasnya. Para pekasehini diangkat oleh petani, bukan
oleh perangkat desa. Mereka mengatur dan memberitahukan ketersediaan air pada
areal persawahan kelompoknya. Apabila kekurangan air, sistem pinjam air
dijalankan agar semua petani mendapatkan air yang cukup untuk sawahnya. Sistem
irigasi subak dibangun oleh masyarakat Bali sejak beratus tahun lalu sebagai
bentuk kemandirian masyarakat dalam mengatasi persoalan air irigasi. Semua
persoalan pertanian dibahas secara musyawarah dan perencanaan yang baik.
Termasuk di dalamnya membahas rencana pengairan, cara menjaga kualitas air,
jumlah air yang akan dialirkan, dan waktu pengairan, termasuk siapa saja yang
akan melakukannya. Subak tidak hanya memperhatikan sistem irigasi, tetapi juga
memperhatikan asas kerja sama dan keadilan dengan menggunakan sistem meminjam
air kepada anggotanya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika pada tahun
2012, subak diakui sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO (United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization) Pengakuan ini menjadi sebuah
kebanggaan bagi bangsa Indonesia.
Sumber: Buku Tematik Siswa Kurikulum 2013 Kelas V Tema 5

0 komentar:
Post a Comment